Prolog: Bukan Anak Konglomerat

Di tengah gemerlap dunia bisnis Indonesia yang sering diisi oleh pewaris kerajaan usaha turun-temurun, kisah Mohammad Jusuf Hamka, atau yang akrab disapa Babah Alun, berdiri sebagai pengecualian. Ia bukan lahir dengan sendok emas di mulutnya, melainkan membangun kekayaannya sedikit demi sedikit, mulai dari pedagang kacang kaki lima hingga menjadi salah satu pemilik jaringan jalan tol terbesar di Indonesia.

Lahir pada 5 Desember 1957 dengan nama Jauw A Loen (Alun Joseph), Jusuf tumbuh di keluarga Tionghoa yang terpelajar, tetapi sederhana secara ekonomi. Ayahnya, Dr. Josep Suhaimi, S.H., adalah seorang dosen, sementara ibunya seorang guru. Sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara, Jusuf kecil sudah terbiasa berjualan kacang dan es mambo di sekitar kawasan Masjid Istiqlal untuk membantu perekonomian keluarga.

Menariknya, meskipun sempat mengenyam pendidikan di beberapa kampus bergengsi — mulai dari Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Bisnis Administrasi Columbia College di Vancouver, hingga FISIP Universitas Jayabaya — tak satu pun gelar yang berhasil ia selesaikan. Jusuf lebih memilih terjun langsung ke dunia usaha ketimbang duduk di bangku kuliah.

Babak Awal: Dari Sopir Traktor ke Kontraktor Jalan Tol

Salah satu fase paling menentukan dalam hidup Jusuf terjadi pada rentang 1986–1989, ketika ia bekerja di sektor konstruksi jalan sebagai sopir traktor. Dari titik paling bawah rantai industri konstruksi inilah, ia perlahan mempelajari seluk-beluk bisnis infrastruktur yang kelak menjadi modal utamanya membangun kerajaan bisnis jalan tol.

Titik baliknya datang saat ia terlibat dalam proyek pembangunan Tol Cawang–Tanjung Priok sepanjang 19,03 kilometer melalui PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP), perusahaan yang awalnya dimiliki keluarga Cendana (Soeharto). Dari sinilah nama Jusuf Hamka mulai melekat dengan bisnis jalan tol, hingga akhirnya ia menjadi pemegang saham mayoritas CMNP.

Hari ini, melalui CMNP dan anak-anak usahanya seperti PT Citra Waspphutowa, PT Citra Marga Lintas Jabar, dan PT Citra Karya Jabar Tol, Jusuf memiliki konsesi di sejumlah ruas tol strategis di Jabodetabek dan Jawa Barat. Kekayaannya kini ditaksir mencapai sekitar Rp15 triliun, menempatkannya sebagai salah satu crazy rich di industri infrastruktur nasional.

Babak Kedua: Ketika Sang Pengusaha Berani Menagih Utang ke Negara

Namun kisah Jusuf Hamka di dunia keuangan bukan hanya soal membangun bisnis dari nol, melainkan juga soal keberaniannya berdiri sejajar, bahkan berhadapan, dengan otoritas keuangan negara. Inilah babak yang membuat namanya benar-benar dikenal luas oleh publik di luar industri konstruksi.

Akar Masalah: Krisis 1998 dan Bank Yama

Kisahnya bermula dari krisis moneter 1997–1998. Saat itu, CMNP menempatkan dana deposito dan giro di Bank Yakin Makmur (Bank Yama), bank swasta yang kemudian dilikuidasi pemerintah bersama puluhan bank lain yang dianggap tidak sehat. Sebagai bagian dari skema penyelamatan sistem perbankan nasional, pemerintah menggelontorkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) agar bank-bank yang dilikuidasi bisa membayar kewajiban kepada para deposannya.

Masalahnya, dana milik CMNP di Bank Yama itu tak kunjung diganti. Pemerintah menilai CMNP terafiliasi dengan Bank Yama, yang kala itu dimiliki Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto, sehingga penggantian dananya masuk kategori yang harus dikaji lebih dulu dalam konteks penyelesaian BLBI.

Melawan Lewat Jalur Hukum

Jusuf tidak tinggal diam. Pada 2012, ia menggugat pemerintah ke pengadilan untuk menuntut penggantian deposito tersebut. Gugatan itu dikabulkan. Pengadilan memenangkan CMNP dan memerintahkan pemerintah membayar kewajiban beserta bunganya. Namun, putusan di atas kertas ternyata tak serta-merta cair. Hingga 2015, utang yang membengkak akibat bunga itu tercatat mencapai sekitar Rp400 miliar, dan terus bertambah karena tak kunjung dibayarkan.

Puncak Perseteruan dengan Kementerian Keuangan

Pada pertengahan 2023, kesabaran Jusuf mencapai batasnya. Ia secara terbuka menagih utang negara yang menurut hitungannya telah mencapai Rp800 miliar, dengan alasan dana itu semestinya digunakan untuk pengembangan bisnis tolnya karena berasal dari "uang publik". Pernyataannya ini memicu respons dari sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Koordinator Polhukam Mahfud MD dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Sri Mulyani, di sisi lain, menjelaskan bahwa pemerintah berhati-hati mencairkan dana tersebut karena persoalan afiliasi CMNP dengan Bank Yama dianggap kompleks, dan menyangkut prinsip pertanggungjawaban BLBI yang lebih luas. Ia bahkan menyatakan kekhawatirannya: jangan sampai negara yang telah membiayai bailout perbankan justru dituntut membayar lagi kepada pihak-pihak yang pernah terafiliasi dengan bank bermasalah tersebut.

Jusuf membantah keras klaim afiliasi itu. Menurutnya, sejak 1997 CMNP sudah menjadi perusahaan publik (tbk) yang tak lagi dimiliki keluarga Tutut, sehingga tuduhan afiliasi dengan Bank Yama dianggapnya tidak berdasar — sebuah posisi yang menurutnya sudah dikuatkan oleh putusan pengadilan.

Value Seorang Jusuf Hamka

Membangun kekayaan dari nol, di tengah dominasi konglomerasi warisan. Jusuf tidak mewarisi bisnis besar. Ia meniti karier dari pedagang kaki lima dan sopir traktor sebelum akhirnya menguasai salah satu aset infrastruktur paling strategis di Indonesia.

Berani menagih hak keuangan dari negara. Tidak banyak pengusaha swasta yang secara terbuka dan konsisten menagih kewajiban keuangan pemerintah selama lebih dari dua dekade, lengkap dengan jalur hukum, sampai isu itu menjadi pembicaraan nasional.

Menjadi cermin isu struktural yang lebih besar. Kasus ini membuka kembali diskusi publik tentang warisan krisis 1998, BLBI, dan bagaimana kewajiban finansial masa lalu pemerintah masih membayangi dunia usaha hingga bertahun-tahun kemudian.

Konsistensi sebagai pengusaha sekaligus figur publik yang dermawan. Di luar bisnis intinya, Jusuf dikenal lewat inisiatif sosial seperti Warung Podjok Halal yang menjual nasi kuning dengan harga sangat terjangkau, menunjukkan sisi lain dari seorang pebisnis yang tetap dekat dengan akar kesederhanaannya.

Penutup

Kisah Jusuf Hamka adalah potret menarik tentang bagaimana keteguhan, keberanian mengambil risiko, dan kegigihan memperjuangkan hak dapat membentuk perjalanan seseorang di dunia keuangan dan bisnis, bahkan ketika lawan yang dihadapi adalah negara itu sendiri. Dari sopir traktor hingga menjadi salah satu pemain kunci industri jalan tol nasional, perjalanannya menjadi pengingat bahwa jalan menuju posisi berpengaruh dalam dunia keuangan tidak selalu mulus, dan sering kali harus ditempuh dengan cara memperjuangkannya sendiri, langkah demi langkah.